Maandag 06 Mei 2013

Ilmu Jiwa Belajar



ILMU JIWA BELAJAR

ILMU :  PENGETAHUAN MANUSIA TENTANG JAGAT RAYA INI;  PADA POKOKNYA, ILMU BERSUMBER DARI SALAH SATU ALTERNATIF SUMBER, SESUAI DENGAN KATEGORI TEORITIS SEBAGAI BERIKUT:


1.       Pengetahuan yang bersumber dari pengalaman yang masuk melalui pancaindra, melalui mata, telinga, hidung dan kulit. Pengalaman-pengalaman itu melalui media peragaan menimbulkan tanggapan-tanggapan dalam diri manusia, yang kemudian disusun dalam bentuk pengetahuan tentang dunia ini.
2.       Pengetahuan yang bersumber dari hasil pemikiran manusia tentang dunia ini. Dari hasil pemikiran itu timbul konsep-konsep, ide-ide yang kemudian dikemukakan dalam bentuk pengetahuan.

A.S.Hornby, cs. Ilmu adalah: pengetahuan  yang disusun dengan cara tertentu, terutama pengetahuan tentang jalannya suatu kejadian/ peristiwa lainnya. Pengertian ini dapat dianalisa: “disusun dengan cara tertentu” logikanya adalah setiap penyusunan sudah tentu ada sesuatu yang disusun dan sesuatu objek terutama yang menjadi pokok bahasan ada sistematikanya, ada logika berfikirnya, ada metode pendekatannya dan ada sumber bahannya.

Jenis-jenis ilmu terdiri dari 4 cabang:
1.       Natural (physical) science, yakni pengetahuan tentang alam (natural)  dari semesta ini, seperti biologi dan astronomi.
2.       Social scence, yakni pengetahuan tentang cara manusia bertingkah laku, seperti psikologi dan ekonomi
3.       Pure science, yakni pengetahuan yang diperoleh dari berpikir dan kebenaran-kebenaran sesungguhnya, seperti matematika.
4.       Exact science, yakni pengetahuan yang dapat diperoleh melalui pengukuran, seperti ilmu kimia.

HAKIKAT ILMU JIWA BELAJAR


Belajar membutuhkan suatu kegiatan yang sifatnya aktif dan dilakukan secara sadar. Hanya memegang buku saja belum dapat diartikan belajar bila seseorang tidak mempelajarinya secara aktif. Tetapi tidak semua perubahan merupakan hasil belajar. misalnya perubahan yang disebabkan karena pertambahan usia, penyakit yang diderita seseorang, kecelakaan dan sebagainya.
Menurut W S Winkel belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan tersebut bersifat relatif konstan atau tetap dan berbekas.

Tujuan dan Skop Ilmu Jiwa Belajar
Berbagai teori atau konsep proses belajar secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua kelompok yang berpangkal pada dua model mengenai manusia yaitu:
Model manusia menurut tradisi Locke
Model manusia menurut tradisi Locke merupakan orientasi behavioristik yang melahirkan teori-teori behavioristik - elementaristik. Pada dasarnya orientasi behavioristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang terdapat dalam lingkungannya.
Model manusia menurut Leibnitz
Model manusia menurut Leibnitz merupakan orientasi fenomenologis, yang melahirkan teori-teori kognitif-wholistik. Orientasi fenomenologis menganggap manusia sebagai sumber dari semua kegiatan.

Arti Penting Belajar
Arti penting belajar bagi perkembangan manusia
Perubahan dan kemampuan untuk berubah merupakan bahasa dan makna yang terkandung dalam belajar. disebabkan oleh kemampuan berubah karena belajarlah, maka manusia dapat berkembang lebih jauh dari makhluk lainnya, sehingga ia terbebas dari kemandekan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi.
Arti penting belajar bagi kehidupan manusia
Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia atau bangsa di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa lain yang lebih dahulu maju karena belajar.
BELAJAR ADALAH: Modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (Learning is defenid as the modivication or strengthening of behavior through experiencing) artinya: belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan Dan bukan suatu hasil atau tujuan, yakni mengalami. Hasil belajar bukan merupakan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan

PENGERTIAN BELAJAR DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

Belajar mempunyai banyak arti sangat luas. Bisa dikatakan bahwa belajar adalah meliputi setiap pengalaman yang menimbulkan perubahan dalam pengetahuan.
Text Box: Kalau belum paham

Belajar dapat didefinisikan sebagai “berubahnya kemampuan seseorang untuk melihat, berfikir, merasakan, melaksanakan sesuatu dan lain-lain”.

Faktor yang mempengaruhi belajar
1.       Faktor-faktor non sosial
2.       Text Box: Berhenti carilah info dari teks yang diperlukanFaktor-faktor sosial dalam belajar
3.       Faktor-faktor fisiologis dalam belajar
4.       Faktor-faktor psikologis dalam belajar
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon

STRATEGI MEMEPELAJARI TEKS

CARILAH
TOPIK YG DIPERLUKAN
DLM DAFTAR ISI ATAU INDEKS

 BACALAH RANGKUMAN TOPIK,
DAN SUSUNLAH PERTANYAAN
YG DIPERLUKAN
              
KIAT LAIN YANG DAPAT DIJADIKAN ALTERNATIF UNTUK MEMPELAJARI TEKS YAITU METODE BELAJAR SQ3R

  1. Survey : Memeriksa Atau Meneliti Keseluruhan Teks
  2. Question: Menyususn Pertanyaan2 Yang Relevan Dengan Teks
  3. Read: Membaca Teks Mencari Jawaban2
  4. Recite: Menghafal Ulang Setiap Jawaban Untuk Setiap Pertanyaan
  5. Review: Meninjau Ulang Seluruh Pertanyaan Dan Jawaban.

HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN DENGAN BELAJAR DILIHAT DARI PERKEMBANGAN PSIKO-FISIK SISWA

1.        PERKEMBANGAN MOTOR (MOTOR DEVELOPMENT) YAKNI PROSES PERKEMBANGAN YANG PROGRESIF DAN BERHUBUNGAN DENGAN PEROLEHAN ANEKA RAGAM KETERAMPILAN FISIK ANAK (MOTOR SKILLS)
2.        PERKEMBANGAN KOGNITIF (COGNITIVE DEVELOPMENT), YAKNI PERKEMBANGAN FUNGSI INTELEKTUAL ATAU PROSES PERKEMBANGAN KEMAMPUAN/KECERDASAN OTAK ANAK.
3.        PERKEMBANGAN SOSIAL DAN MORAL (COCIAL AND MORAL DEVELOPMENT) YAKNI PROSES PERKEMBANGAN MENTAL YANG BERHUNGAN DENGAN PERUBAHAN2 CARA ANAK DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN OBYEK ATAU ORANG LAIN, BAIK SEBAGAI INDIVIDU MAUPUN SEBAGAI KELOMPOK.




ADA DUA MACAM METODE YANG DIAPLIKASIKAN UNTUK MELAKUKAN STUDI MENGENAI PERKEMBANGAN MORAL ANAK DAN REMAJA OLEH: PIAGET

  1. Melakukan obsevasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng dan menanyai mereka tentang aturan yang mereka ikuti
  2. Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisah yang menceritakan perbuatan salah dan benar yang dilakukan anak-anak, lalu meminta responden, untuk menilai kisah-kisah tersebut berdasarkan pertimbangan moral mereka sendiri
  BEBERAPA BENTUK / JENIS BELAJAR
Bentuk-bentuk belajar antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.       Bentuk belajar menurut psikis
a.       Belajar dinamik yaitu artinya menghendaki sesuatu secara wajar didalam belajar
b.       Belajar efektif, cirinya belajar menghayati nilai-nilai dari obyek yang dihadapi melalui alam perasaan
c.        Belajar kognitif, cirinya dalam mempergunakan bentuk-bentuk prestasi yang mewakili obyek-obyek yang dihadapi
2.       Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari
a.       Belajar teoritis
b.       Belajar teknis
c.        Belajar bermasyarakat
d.       Belajar estetis, cenderung bertujuan membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan diberbagai bidang kesenian.
3.       Bentuk- bentuk belajar yang tidak begitu disadari
a.       Belajar insidental : ini cirinya langsung bila orang mempelajari sesuatu dengan tujuan tertentu tetapi di samping itu juga belajar hal-hal lain yang sebenarnya tidak menjadi sasaran.
b.       Belajar tersembunyi
c.        Belajar mencoba-coba


MASALAH MOTIVASI BELAJAR

Motif, motivasi dan motivasi belajar.
Motif adalah : daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu
Motivasi ialah motif yang sudah menjadi aktif pada saat-saat tertentu, motivasi belajar adalah dorongan yang mana dapat memberikan rasa belajar dengan tekun kepada peserta didik.
Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan sesuatu kebutuhan. Kaitan itu tertampung dalam istilah “lingkungan motivasi”.
Proses Belajar - Presentation Transcript
  1. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar Konsep Belajar dan Mengajar
  2. Makna Belajar
a.       Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan, misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru.
b.        Arti luas, belajar artinya kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya
c.         Arti sempit, belajar adalah usaha penguasaan materi pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya pribadi seutuhnya.
  1. Tujuan Belajar
a.       Untuk mendapat pengetahuan.
b.       Ditandai dengan kemampuan berfikir.Dengan kata lain,tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfikir akan memperkaya pengetahuan.
c.        Dalam hal ini, peranan guru sebagai pengajar lebih menonjol
  1. Penanaman konsep dan ketrampilan Interaksi yang mengarah pada pencapaian ketrampilan akan menuruti kaidah-kaidah tertentu dan bukan semata-mata hanya menghafal atau meniru. Misalnya dengan metode role playing
  1. Pembentukan sikap.
a.       Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak akan terlepas dari soal penanaman nilai, transfer of values.
b.       Oleh karena itu, guru tidak hanya sekedar “pengajar” tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya.
  1. Beberapa teori tentang belajar
1.       Teori belajar menurut ilmu jiwa daya.
2.       Jiwa manusia terdiri dari berbagai daya dan daya tersebut dapat dilatih dalam rangka untuk memenuhi fungsinya.
3.       Dalam hal ini,bukan penguasaan bahan atau materinya,melainkan hasil dari pembentukan dari daya-daya it                                                                                                                                                                                                                               
  1. Teori belajar menurut ilmu jiwa. Teori ini berpandangan bahwa keseluruhan lebih penting dari pada bagian-bagian/unsur.
        Belajar memecahkan masalah diperlukan juga suatu pengamatan secara cermat dan lengkap.
  1. Teori belajar menurut ilmu jiwa asosiasi. Ilmu jiwa asosiasi berprinsip bahwa keseluruhan itu sebenarnya terdiri dari penjumlahan bagian-bagian atau unsur-unsurnya.Dari aliran ini terdiri dari dua teori yang sangat terkenal: Teori Konektionisme, dari Thorndike dan Teori Conditioning dari Pavlov
  2. Teori Konstruktivisme
1. Konstruktivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita itu adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri.
2.Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan.
3.       Faktor-faktor psikologis dalam belajar
    1. Motivasi, tergantung pada unsur pengalaman dan interest
    2. Konsentrasi, memusatkan pada segenap kekuatan perhatian pada situasi belajar
    3. Reaksi, dalam kegiatan belajar diperlukan keterlibatan unsur fisik maupun mental sebagai suatu wujud reaksi.
4.       Organisasi, belajar dapat dikatakan sebagai kegiatan mengorganisasikan, menata atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran ke dalam suatu pengertian.
    1. Pemahaman, yaitu menguasai sesuatu dengan pikiran
    2. Ulangan, kegiatan mengulang harus disertai pikiran dan bertujuan
TRANSFER BELAJAR
Transfer belajar adalah: pemindahan/ pengalihan hasil belajar yang diperoleh dalam bidang studi yang satu ke bidang studi yang lain, atau kehidupan sehari-hari di luar lingkungan sekolah.
Beberapa pandangan tentang transfer belajar, dalam hal ini terdapat beberapa teori antara lain :
1.       Teori disiplin formal
Pandangan ini bertitik tolak pada pandangan aliran psikologis, daya tentang psike/kejiwaan manusia, psike itu dipandang sebagai kumpulan dari sejumlah bagian / daya-daya yang berdiri sendiri. Seperti daya berfikir, daya mengingat, daya kemauan, daya merasa, dan lain-lain.
2.       Teori elemen identik
Suatu unsur di bidang studi yang satu ke unsur yang sama antara bidang-bidang study.
3.       Teori generalisasi
Berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok.

Faktor-faktor yang berperan dalam
 transfer belajar.
1.       Proses belajar
2.       Hasil belajar
3.       Bahan / materi bidang-bidang studi
4.       Faktor-faktor subyektifitas di pihak siswa
5.       Sikap dan usaha guru


PEMECAHAN MASALAH
(PROBLEM SOLVING)

Setiap makhluk hidup pasti mempunyai masalah. Adapun beberapa cara yang harus ditempuh dalam problem solving mulai dari sederhana sampai yang paling rumit adalah :
1.       Kelakuan yang tidak dipelajari (instink) dan pembiasaan
2.       Trial and error yang membudaya
3.       Dengan insight (pemahaman)
4.       Vicarious, behavior (dalam hati), dan
5.       Cara ilmiah
Kalau pada binatang pemecahan masalah dapat menggunakan cara-cara (1), (2), dan (3) sedangkan pada manusia menggunakan kelima cara tadi, akan tetapi cara (1), dan (2) sering dipergunakan pada tahap kanak-kanak.
FENOMENA KEJIWAAN INDIVIDU
A. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa) yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa
2. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa) yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa
3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran

B. Arti Penting Perkembangan Kecakapan Bagi Proses Belajar Siswa
Proses perkembangan dengan proses belajar mengajar yang dikelola para guru terdapat benang merah yang mengikat kedua proses tersebut. Hampir tidak ada proses perkembangan siswa baik jasmani maupun rohaninya yang sama sekali terlepas dari proses belajar mengajar sebagai pengejawantahan proses pendidikan. Apabila fisik dan mental sudah matang, panca indera sudah siap menerima stimulus-stimulus dari lingkungan, berarti kesanggupan siswa pun sudah tiba.

C. Perbedaan Individu
Dalam fenomena kejiwaan terdapat beberapa aspek kepribadian siswa yang dapat mempengaruhi belajar. antar lain fenomena kognitif, fenomena afektif, dan fenomena psikomotorik.
1. kognitif: psikologi kognitif adalah teori yang dikeluarkan oleh Gestalt. Teori ini lebih menekankan pada proses mengetahui yaitu menemukan cara-cara ilmiah dalam mempelajari proses mental yang terlibat dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan. Lebih menekankan pada proses mental, terutama proses berpikir. Pemahaman atau instight juga merupakan proses berpikir.
2. Afektif: perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan tersebut yang selalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang kuat, kadang lemah, atau kadang tidak jelas atau samar. Perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah hal tersebut dinamakan emosi.
3. Psikomotorik: pada fenomena psikomotorik atau campuran meliputi taraf intelegensi, daya, kreativitas, bakat khusus, organisasi kognitif, kemampuan berbahasa, daya fantasi, giat belajar, dan teknik-teknik studi. Perkembangan intelek, bakat khusus, sosial dan bahasa merupakan beberapa contoh dari fenomena campuran.

PENERAPAN FENOMENA-FENOMENA KEJIWAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR
A. Pengertian belajar
Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat relatif, konstan, dan berbekas. Dalam kaitan ini maka antara proses belajar dengan perubahan adalah dua gejala saling terkait yakni belajar sebagai proses dan perubahan sebagai bukti dari hasil dari yang diproses.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
1. bahan atau hal yang akan dipelajari
2. faktor lingkungan
3. faktor instrumental
4. kondisi individual peserta didik

C. Fenomena-fenomena kejiwaan yang mempengaruhi belajar
Masalah belajar adalah masalahnya setiap orang. Hampir semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran, dan sikap manusia terbentuk, dimodifikasi dan berkembang karena belajar. oleh karena itu jelaslah kiranya terdapat bermacam-macam fenomena di lapangan dalam kegiatan belajar dikarenakan adanya perbedaan sikap, pendapat dan perilaku yang menimbulkan adanya fenomena kejiwaan individu dalam belajar.

D. Menerapkan fenomena-fenomena kejiwaan individu dalam belajar
1. Perhatian: definisi perhatian yang dibuat oleh para psikolog ada dua macam. Yang pertama adalah pemusatan energi psikis tertuju kepada suatu objek. Yang kedua adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang sedang dilakukan. Makin banyak kesadaran yang menyertai suatu aktivitas, maka makin intensif perhatiannya. Aktivitas yang disertai dengan perhatian yang intensif akan lebih berhasil, dalam artian prestasinya lebih tinggi.
2. Pengamatan: manusia mengenal dunia riil, baik dirinya sendiri maupun sekitarnya, dengan melihat, mendengar, meraba, membauinya, dan mencecapnya. Cara mengenal objek yang demikian itu disebut mengamati, sedangkan melihat, mendengar, meraba, membau dan mencecap itu disebut modalitas pengamatan. Dari kelima modalitas tersebut yang telah mendapatkan penelitian secara psikologis dengan cukup intensif adalah penglihatan.
3. Tanggapan: didefinisikan sebagai gambaran yang tinggal dalam ingatan setelah orang melakukan pengamatan. Tanggapan yang ada pada diri seseorang akan berpengaruh terhadap proses belajarnya kemudian, maka diusahakan agar tanggapan-tanggapan itu benar dan cermat, sehingga tanggapan tersebut dapat mempunyai peranan yang positif terhadap kegiatan belajar.
4. Fantasi: didefinisikan sebagai kemampuan untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru berdasarkan atas tanggapan yang ada. Atau dapat pula dikatakan fantasi adalah suatu fungsi yang memungkinkan individu untuk berorientasi dalam alam imajiner, melampaui dunia riil.
5. Ingatan: secara teori orang dapat membedakan adanya tiga aspek dalam berfungsinya ingatan yaitu: mencamkan, mengingat dan mereproduksi. Pencaman bahan pelajaran akan lebih berhasil jika orang tidak saja membaca bahan pelajaran itu, tetapi juga menyuarakannya dan mengulang-ulangnya.
6. Berpikir: pikiran mempunyai kedudukan yang boleh dikata menentukan dalam dunia studi. Karena itu menjadi kewajiban tenaga pengajar untuk memberikan bantuan sebaik-baiknya kepada peserta didiknya agar mereka dapat mengembangkan kemampuan berpikir mereka dengan baik.
7. Intelegensi dan bakat: banyak pendapat bahwa intelegensi atau kecerdasan merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang. Semakin meningkat umur seseorang, semakin dewasa pula cara berpikirnya. Perkembangan cara berpikir seseorang dari yang kongkrit ke yang abstrak tidak bisa dipisahkan dari perkembangan intelegensinya.
8. Motif: motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong dia untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Persaingan yang sehat baik secara individual dan mau pun secara kelompok dapat meningkatkan motif untuk belajar.

MENGANALISIS PERKEMBANGAN INDIVIDU MENURUT PARA PSIKOLOG
A. Pengertian perkembangan
Pendapat para ahli mengenai perkembangan berbeda-beda. Akan tetapi walaupun berbeda, semuanya mengakui bahwa perkembangan adalah suatu perubahan menuju ke arah yang lebih maju, lebih dewasa. Individu selama perkembangannya tidak mempunyai kehidupan yang stabil tapi dinamis. Dan perkembangan merupakan hal yang berkesinambungan.

B.Prinsip-prinsip perkembangan.
1. Perkembangan berlangsung seumur hidup dan  meliputi seluruh aspek
2. Setiap individu memiliki kecepatan dan kualitas perkembangan yang berbeda
3. Perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu
4. Perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit
5. Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju yang ke lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi
6. Secara normal perkembangan individu mengikuti seluruh fase tetapi karena faktor-faktor khusus, fase tertentu bisa dilewati dengan cepat atau sangat lambat
7. Sampai batas-batas tertentu perkembangan suatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat
8. Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya
9. Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria berbeda dengan wanita

C. Aspek-aspek perkembangan
1. Sikis dan motorik: pada awal kehidupannya yaitu pada saat dalam kandungan dan tahun-tahun pertama, perkembangan aspek ini sangat menonjol
2. Sosial: aspek ini meliputi kepercayaan akan diri sendiri, berpandangan objektif, keberanian menghadapi orang lain menyangkut kematangan emosi, ketepatan sikap dan lain-lain.
3. Intelektual: kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif ada yang bersifat potensial seperti bakat dan ada kecakapan nyata atau kecakapan hasil belajar, seperti kecakapan dalam bidang fisika, matematika dan lain-lain
4. Bahasa: kecakapan dalam bidang bahasa meliputi kecakapan memahami isyarat dan bunyi, kecakapan menyampaikan buah pikiran atau menerima pemikiran orang lain.
5. Emosi: aspek ini mencakup kematangan emosi, ketepatan sikap dan lain-lain.
6. Moral dan keagamaan: aspek ini berkembang sejak kecil. Peranan lingkungan terutama lingkungan keluarga sangat dominan dalam perkembangan aspek ini.

D. Pengertian Pertumbuhan, Belajar, Dan Perbedaannya Dengan Perkembangan
1. Pengertian pertumbuhan
Pertumbuhan adalah suatu peristiwa atau keadaan yang subur sekali guna perkembangan lebih lanjut, yakni suatu hasil yang muncul karena peristiwa pertumbuhan.
2. Pengertian belajar
menurut witherington belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan.
3. Perbedaan pengertian perkembangan, belajar dan pertumbuhan
perbedaan pertama adalah pertumbuhan lebih banyak berkenaan dengan aspek-aspek fisik sedangkan perkembangan dengan aspek-aspek psikis atau rohaniah. Perbedaan kedua adalah pertumbuhan menunjukkan perubahan atau penambahan secara kuantitas yaitu penambahan dalam ukuran besar atau tinggi sedangkan perkembangan berkaitan dengan peningkatan kualitas yaitu peningkatan dan penyempurnaan fungsi. Perbedaan ketiga adalah suatu pertumbuhan aspek tertentu akan berakhir apabila telah mencapai kematangannya sedangkan perkembangan terus berlangsung sampai akhir hidupnya.


E. Aliran-Aliran Perkembangan Individu
1. Konsepsi aliran asosiasi
Menurut aliran ini, perkembangan adalah proses asosiasi. Para ahli yang mengikuti aliran ini yang primer adalah bagian-bagian. Bagian-bagian ada lebih dahulu sedangkan keseluruhan ada lebih kemudian. Bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan oleh asosiasi. Contoh: bagaimana terbentuknya pengertian lonceng.
2. Konsepsi aliran gestalt dan neo gestalt
menurut aliran gestalt perkembangan adalah proses diferensiasi. Sedangkan menurut aliran neo gestalt yang dirintis oleh kurt lewin yaitu proses diferensiasi itu masih ditambah proses stratifikasi.
3. Konsepsi aliran sosiologis
perkembangan adalah proses sosialisasi. Anak mula-mula bersifat asosial kemudian dalam perkembangannya sedikit demi sedikit disosialisasikan.

FAKTOR-FAKTOR PERKEMBANGAN INDIVIDU
A. Konsep Perkembangan Individu
Perkembangan menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Perkembangan berlangsung terus-menerus sepanjang hayat
2. Dalam batas tertentu perkembangan dapat dipercepat
3. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor bawaan, lingkungan dan kematangan
4. Untuk aspek tertentu perkembangan wanita lebih cepat daripada pria
5. Individu yang normal mengalami semua fase perkembangan

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Ada dua faktor yang mempengaruhi perkembangan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari faktor herediti, faktor aktifitet, faktor usia, faktor jenis kelamin, dan faktor intelegensi. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan, pendidikan, insentif, dan kultur atau budaya.

C. Mazhab Perkembangan Individu
1. Nativisme
aliran ini dipelopori oleh schopenhauer yang menyatakan bahwa perkembangan individu semata-mata ditentukan faktor yang dibawa sejak lahir, para ahli yang mempertahankan konsep ini menunjukkan berbagai kesamaan atau kemiripan antara orang tua dan anaknya.
2. Empirisme
tokoh aliran ini adalah john locke yang berpendapat bahwa manusia ketika lahir diibaratkan sebagai meja lilin atau tabula rasa yang putih dan bersih sehingga pengaruh lingkungan dan pendidik berkuasa menulis apa saja.
3. Konvergensi
tokoh aliran ini adalah wiliam stern yang berpandangan bahwa manusia berkembang dipengaruhi oleh faktor natur (pembawaan) dan lingkungan atau pendidikan.

D. Merasionalkan Beberapa Faktor Perkembangan Individu
1. Azas biologis
justru karena anak itu adalah makhluk biologis maka dia berkembang. Tetapi jika bukan makhluk hidup maka tidak akan mengalami perkembangan. Supaya perkembangan anak berlangsung secara normal maka keadaan biologis harus normal pula. Keadaan biologis yang cacat akan menimbulkan kelainan-kelainan dalam perkembangannya. Untuk mencapai perkembangan yang normal maka kebutuhan-kebutuhan biologis harus terpenuhi secara normal pula.
2. Azas ketidakberdayaan
bahwa anak manusia pada waktu masih sangat muda adalah sangat tidak berdaya dan suatu keharusan bahwa dia perlu berkembang menjadi berdaya. Jika perkembangan hewan cukup dengan insting-instingnya tetapi anak manusia hidup dalam dunia terbuka sehingga perkembangannya tidak dibatasi oleh instingnya.
3. Azas keamanan
kecuali kebutuhan-kebutuhan biologis anak memerlukan adanya rasa aman, karena itu perlu adanya pertolongan dan perlindungan dari orang yang mendidik. Inti dari perlindungan ini adalah kasih sayang orang tua. Kurangnya kasih sayang orang tua akan cenderung mengganggu perkembangan perasaan.
4. Azas eksplorasi
bahwa di dalam perkembangan anak tidak pasif semata-mata menerima pengaruh dari luar tetapi dia juga aktif mencari dan menemukan. Hal ini dilakukan dengan cara dengan fungsi jasmaniah (mulut, kaki). setelah bertambah umurnya eksplorasi juga dilakukan dengan fungsi panca indera. Justru di dalam eksplorasi itulah individu itu berkembang.
MENGEVALUASI TEORI-TEORI
 PSIKOLOGI BELAJAR
A. Teori Belajar Beserta Tokohnya
Teori belajar menurut paradigma behaviorisme
a. Thorndike
1. Trial and error: mencoba-coba mengalami kegagalan
2. Law of effect: yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibat suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya
3. Law of readines: kesiapan untuk bertindak atau bereaksi terhadap stimulus
4. law of exercise: makin banyak dipraktekkan atau digunakannya hubungan stimulus respons maka hubungan tersebut semakin kuat
b. Ivan Pavlov
1. Pembiasaan baru pada anjing karena adanya latihan terus menerus
2. Bunyi bel yang senantiasa diikuti dengan munculnya makanan memberikan pengalaman bagi anjing untuk secara refleks mengeluarkan air liur begitu mendengar bel
3. Kebiasaan anjing tersebut di atas akan berangsur-angsur hilang apabila diikuti dengan pemberian makanan

c. E R Gutrie
1. Incompatible response method: metode reaksi berlawanan
2. Exhaution method: metode membosankan
d. B F Skinner
1. Responden response: reflexive response
2. Operan response: instrumental response

Teori Belajar Menurut Paradigma Kognitivisme
a. Gestalt: suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang insight yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam situasi permasalahan.
b. Kurt Lewin: berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan baik dari dalam individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun dari luar individu seperti tantangan dan permasalahan
c. Jean Piaget: menyelidiki pertumbuhan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.
d. Jerome Bruner: berpendapat bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak, mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif adalah dengan mengoordinasikan model penyajian bahan dengan cara di mana anak dapat mempelajari bahan itu sesuai dengan tingkat kemajuan anak, guru harus memberikan kesempatan kepada muridnya dalam menemukan arti bagi diri mereka sendiri dan mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti oleh mereka

Teori Belajar Menurut Paradigma Humanisme
a. Combs: melukiskan persepsi diri dan persepsi dunia seseorang seperti dua lingkungan (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu lingkungan kecil lingkaran kecil adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkaran besar adalah gambaran dari persepsi dunia
b. Maslow: teori didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu
c. Karlrogers: belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya baik perasaan maupun intelektualnya, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam

B. Jenis Belajar
1. Part learning/ tractioned learning: belajar bagian
2. Learning by insight: belajar dengan wawasan
3. Diskriminatif learning: belajar diskriminatif
4. Global whole learning: belajar global atau keseluruhan
5. insidental learning: belajar insidental
6. instrumental learning: belajar instrumental
7. intentional learning: belajar intensional
8. laten learning: belajar laten
9. mental learning: belajar mental
10. productive learning: belajar produktif
11. verbal learning: belajar verbal

C. Ciri-Ciri Teori Belajar
1. Ciri-ciri teori behaviorisme:
a. mementingkan pengaruh lingkungan
b. mementingkan bagian-bagian
c. mementingkan peranan reaksi
d. mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar
e. mementingkan sebab-sebab di waktu yang lalu
f. mementingkan pembentukan kebiasaan
g. dalam pemecahan masalah ciri klasiknya adalah trial and eror

2. Ciri-ciri kognitifisme:
a. mementingkan apa yang ada pada diri sendiri
b. mementingkan keseluruhan
c. mementingkan peranan fungsi kognitif
d. mementingkan keseimbangan dalam diri si pelajar
e. mementingkan kondisi yang ada pada waktu itu
f. mementingkan pembentukan struktur kognitif
g. dalam pemecahan masalah cirinya adalah insight
3. ciri-ciri humanisme:
a. mementingkan manusia sebagai pribadi
b. mementingkan kebulatan pribadi
c. mementingkan peranan kognitif dan afektif
d. mementingkan persepsi subyektif yang dimiliki tiap individu
e. mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri
f. mengutamakan insight
MENERAPKAN TEORI-TEORI BELAJAR DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. Behavioristik
1. Koneksionisme oleh Thorndike: terdapat tiga hukum pokok dan enam hukum tambahan
1. law of readiness (hukum kesiapan): di dalam hukum ini terdapat keadaan yang menunjukkan seseorang mempunyai keinginan bertindak maka ia akan melakukan dan apabila tidak melakukannya maka akan menimbulkan ketidakpuasan atau sebaliknya, bila ia melakukan akan menimbulkan kepuasan maka dia tidak akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi rasa tidak puasnya.
2. Law of exercise (hukum latihan): di dalam hukum ini ditunjukkan bahwa suatu kegiatan akan mudah dikerjakan kalau kita sudah terbiasa atau sudah lama kita tidak melakukannya pasti akan kesulitan dalam mengerjakannya
3. Law of effect (hukum akibat): dalam hukum ini ditunjukkan bahwa suatu perbuatan yang akibatnya baik pasti akan dilakukan lagi, tapi sebaliknya kalau akibatnya buruk pasti tidak akan dilakukan lagi
1. Belongingness: suatu koneksi akan lebih mudah dipelajari bila stimulus yang dipelajari itu termasuk dalam satu situasi
2.  Multiple response: bila seseorang menghadapi suatu masalah ada kemungkinan orang itu akan mengadakan bermacam-macam reaksi dengan maksud mencoba-coba berbagai macam cara untuk menemukan salah satu cara yang paling tepat
3. Attitude: di dalam belajar, sikap menentukan arah dan bentuk perbuatan. Di samping itu sikap juga menyebabkan orang memilih reaksi atau perbuatan yang menyebabkan kepuasan
4. Partial activity: bila orang dihadapkan pada situasi, ia mampu melihat ciri pokok dari situasi itu dan hanya akan bereaksi sesuai dengan ciri pokok itu tanpa memperlihatkan ciri-ciri yang lain yang menyertai situasi itu
5. Response by analogi: bila seseorang menghadapi situasi baru, ia cenderung menggunakan reaksi atau sebagian dari reaksi yang pernah ia lakukan pada waktu menghadapi situasi yang mirip dengan situasi baru itu
6. Associative shifting: bila kita ingin seseorang melakukan reaksi dengan terlebih dahulu harus diberikan syarat-syarat tertentu baru ia mau melakukannya, maka pada suatu saat orang itu akan mengerjakan tugasnya itu tanpa disertai syarat
2. Kondisioning
a. Kondisioning Klasik Oleh Ivan Plavov
:
Dalam teori ini ditunjukkan bahwa bagaimana tingkah laku dapat dibentuk dengan pengaturan dan manipulasi lingkungan. Dan tingkah laku tertentu dapat dibentuk dengan secara berulang-ulang. Tingkah laku itu tadi dipancing dengan sesuatu yang memang dapat menimbulkan tingkah laku itu
b. Kondisioning operan oleh Skinner:
1. Seseorang akan melakukan sesuatu kalau ada rangsangannya
2. Seseorang akan melakukan terus dan terus mengembangkannya karena rangsangan itu tetap ada
c. Teori kondisioning Guthrie: dengan prinsip belajar kondisioning, Guthrie mencoba mengubah tingkah laku yang kurang baik. Metode mengubah tingkah laku menurut Guthrie yaitu:
1. Reaksi berlawanan: bila kita ingin mengubah atau menghilangkan reaksi R terhadap stimulus S, maka pada waktu stimulus S itu diberikan, stimulus lain yang reaksinya berlawanan dengan reaksi yang akan diubah diberikan sekaligus
2. Membosankan: yaitu cara dengan membiarkan saja tingkah laku itu berlangsung. Dengan demikian akan timbul kebosanan dan orang yang melakukan perbuatan itu akan berhenti dengan sendirinya
3. Mengubah lingkungan: yaitu cara dengan jalan memutuskan atau memindahkan stimulus yang menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan itu


B. Kognitif
1. Teori Gestalt
Insightful learning yang merupakan bentuk utama belajar menurut Gestalt mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Insightful learning itu tergantung kepada kemampuan dasar si pelajar, kemampuan dasar ini tergantung kepasa umur, keanggotaan dalam spesies, dan perbedaan individual dalam suatu spesies
b. Insightful tergantung kepada pengaturan situasi yang dihadapi. Insightful learning ini hanya mungkin timbul apabila situasi belajar ini diatur sedemikian rupa, sehingga aspek yang diperlukan dapat diobservasi
c. Insightful didahului periode mencari dan mencoba-coba. Sebelum memecahkan masalah subyek mungkin melakukan hal-hal yang kurang relevan terhadap pemecahan problem tersebut
d. Pemecahan soal dengan pengertian dapat diulangi dengan mudah. Sekali sudah dapat memecahkan suatu soal dengan pengertian maka orang akan dengan mudah mengulangi pemecahan itu dan ini akan dilakukan secara langsung
e. Sekali insghtful telah diperoleh maka lalu dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi lain.
Dalam proses memperoleh insght terdapat dua aktivitas yang penting yaitu:
f. Proses generalisasi: yaitu proses penarikan hubungan yang penting atas dasar kesamaan struktur dan bentuk atau ciri-ciri umum dari suatu pengalaman
g. Proses diferensiasi: yaitu proses yang menyebabkan orang sadar akan adanya perbedaan-perbedaan yang penting yang terdapat pada sejumlah pengalaman
2. Medan oleh Kurt Lewin
Menurut pandangan Lewin belajar adalah:
a. Belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Pemecahan problem hanya dapat terjadi apabila struktur kognitif diubah
b. Peranan hadiah dan hukuman merupakan dua sarana motivasi yang berguna, tapi dalam penggunaannya memerlukan pengawasan yang cukup
c. Faktor motivasi lain yang penting yaitu pengalaman sukses dan gagal.
 Pengalaman sukses dapat dibedakan adanya beberapa tingkatan:
1. Betul-betul mencapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan
2. Sudah ada dalam daerah tujuan yang ingin dicapai
3. Telah membuat kemajuan ke arah tujuan yang dikehendaki
4. Telah berbuat sesuatu, yang oleh masyarakat dianggap sebagai suatu cara untuk mencapai tujuan. Taraf aspirasi: pengalaman sukses dan gagal itu bersangkutan langsung dengan taraf aspirasi seseorang.
3. Teori Belajar Bandura
Menurut Bandura proses belajar terjadi dengan mengantai dan meniru apa yang di sekitarnya. Oleh karena itu dinamakan social learning. Dalam social learning tersapat dua prinsip yaitu modeling dan imitation.
C. Humanistis
1. Combs
Ahli-ahli humanis mengatakan bahwa dalam belajar diperlukan dua hal yaitu pemerolehan informasi baru dan personalisasi (mempribadikan nilai-nilai) informasi tersebut pada individu.
2. Carl Rogers
Dalam bukunya ‘freedom to learn’ Rogers mengajukan sejumlah prinsip-prinsip belajar antara lain:
- manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami
- belajar yang signifikan terjadi apabila subyek matter dirasakan murid mempunyai relevansi maksudnya sendiri
- belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung ditolaknya
- tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil
- apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai rasa yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar
- belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya
- belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab dalam proses belajar itu
- belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa secara seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari
- kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan kreativitas lebih mudah dicapai apabila terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting
- belajar yang paling berguna secara sosial di dunia modern ini ialah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu
3. Arahan Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri manusia terdapat dua hal yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan yang menolak atau yang melawan perkembangan itu. Maslow mengatakan adanya motif bertingkat pada manusia yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan memperoleh kasih sayang, kebutuhan memperoleh penghargaan, kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetis.
D. Psikoanalisis
Dua mekanisme pertahanan yang mengandung prinsip-prinsip belajar adalah:
1. identifikasi: merupakan metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang lain dan membuatnya menjadi bagian dari kepribadiannya
2. pemindahan obyek: bila obyek pilihan sesuatu insting asli dapat dicapai karena adanya rintangan baik dari dalam atau dari luar, maka terjadilah dorongan yang baru, kalau terjadi penekanan yang kuat, demikian seterusnya sehingga ada obyek yang dapat digunakan untuk mereduksikan tegangan
Ciri-ciri utama psikoanalisis adalah:
- proses kejiwaan meliputi proses kesadaran dan proses ketidaksadaran
- menganut prinsip psychic determinism yang berarti bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam pikiran seseorang tidaklah terjadi secara kebetulan melainkan karena peristiwa kejiwaan yang mendahuluinya. Peristiwa kejiwaan yang satu berkaitan dengan peristiwa lainnya, dan menimbulkan hubungan sebab akibat
- proses mental yang tidak disadari fungsinya lebih banyak dan lebih penting dalam kondisi mental baik normal maupun abnormal

KECERDASAN INTELEKTUAL (IQ)
A. Pengertian Kecerdasan
Breekenridge and Vincent menyatakan bahwa ‘inteligence, we usually mean a person’s ability to learn, to adapt, to solve new problem’. Sedangkan menurut Woodworth inteligensi adalah suatu tindakan yang bijaksana dalam menghadapi setiap situasi secara cepat dan tepat. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah kapasitas umum dari kesadaran individu untuk berpikir, menyesuaikan diri, memecah masalah yang dihadapi secara bijaksana, cepat dam tepat.
B. Pengertian Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang. Menurut para psikolog kecerdasan intelektual adalah kecerdasan menghadapi persoalan teknikal dan intelektual.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Taraf Inteligensi
- Faktor hereditas
Teori hereditas atau nativisme pertama kali dipelopori oleh seorang ahli filsafat Schopenhauer. Dia berpendapat bahwa manusia lahir sudah membawa potensi-potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi lingkungan. Berdasarkan teorinya, taraf inteligensi sudah ditentukan sejak anak dilahirkan sedangkan faktor lingkungan sama sekali tak berarti pengaruhnya.
- Faktor lingkungan
Teori lingkungan atau empirisme dipelopori oleh John Locke. Dia berpendapat bahwa manusia dilahirkan sebenarnya suci atau tabularasa. Munurut pendapatnya, perkembangan manusia sangatlah ditentukan oleh lingkungannya. Berdasarkan pendapat John Locke tersebut, perkembangan taraf inteligensi sangatlah ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya.
D. Pengukuran Taraf Inteligensi
Alfrede Binet dan Theodore Simon menciptakan tes inteligensi dengan landasan item-item yang digunakan diharapkan dapat dijawab oleh anak-anak tanpa memerlukan latihan khusus, sehingga hasil tes yang diperoleh betul-betul menunjukkan kemampuan si anak. Mereka memilih dua dasar item yaitu menyeleksi pertanyaan materi tesnya diharapkan belum dikenal anak-anak dan memilih item-item yang diharapkan anak-anak dapat merefleksikan pengalaman masa lampaunya.
- alat-alat tes yang mengukur taraf inteligensi
• Test colour progressive matrix (CPM), PM 40, PM 60, PM advanced standard from J C Raven M Sc. Tes ini digunakan berdasarkan kelompok umur.
• Test Binet Scale from Alfred Binet, Binet Simon, Stanford Binet,
• The wheesler preschool and primary scale of inteligence (WPPSI untuk anak umur 4-6 tahun), The whessler inteligence scale for children (WISC) the wheesler adult inteligence Scale (WAIS) dan the bellevue inteligence scale (WBIS) oleh David Weesler
• The drawing of a man from Goodenough Haris
• Valentine test
• Timtum 69 timtum 70 oleh Thurston
• Figure reasoning test (FRT) oleh John C Daniels
• Test IQ Bearbon, teat IQ OTIS, Test IQ Magers
• Test IQ dengan menggunakan alat elektronika oleh Profesor Hans Evsenck
- konsep IQ (inteligence quotient)
Untuk memudahkan cara menghitung angka taraf inteligensi dibuatlah rumus
IQ = MA x 100
CA
IQ= intelligence quotient= indeks taraf inteligensi
MA= mental age= umur mental yang diperoleh dari hasil tes
CA= chronological age= umur penanggalan yang diperoleh dari umur kelahiran atau tahun kelahiran
- menentukan taraf inteligensi dengan menggunakan skala nilai
Ahli psikologi Yarkes dan Foster berpendapat bahwa mengukur taraf inteligensi dengan menggunakan skala nilai lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan menggunakan skala umur dengan lasan sebagai berikut:a. Skala nilai untuk penelitian tunggal
b. Seleksi berdasarkan fungsi yang diukur
c. Tes diberi tingkatan dan dapat digunakan untuk umur yang berbeda-               beda
d. Standarisasinya secara eksternal dan fleksibel
e. Penilaian gradual
f. Kuantitatif
g. Semuanya dapat diukur
h. Tes diperhitungkan secara tidak sama
i. Menganalisa fungsi-fungsi yang berkembang
j. Ukuran dari berbagai tingkat umur dapat diperbandingkan
Salah satu ahli psikologi yang menggunakan skala nilai adalah David Weesler. Tes inteligensi dari David Weesler terdiri dari enam sub tes verbal dan lima sub tes performance.
Tes verbal terdiri dari:
Information: pengetahuan umum, pendidikan, minat, budaya dan masyarakat sekitarnya
Comprehension: problem praktis atau konkret, keterangan, sifat kepribadian, dan latar belakang budaya
Arithmetic: konsentrasi, kecepatan dan ketepatan berhitung
Similarities: daya abstraksi dan esensial problem
Digit span: konsentrasi dan ingatan mekanis
Vocabulary: mengungkapkan kemampuan bahasa
Tes performance terdiri dari:
Picture completion: persepsi kritis, taraf kemampuan, persepsi visual, pengenalan visual, melihat bagian-bagian yang esensial dan minat
Picture arrangement: daya observasi, cara berpikir, trial and eror, logika, insight dalam situasi sosial dan relasi
Block design: konsentrasi, kemampuan analisa, sintesa, cara berpikir global atau sistematis, pendekatan terhadap situasi, kepribadian, trial and eror
Object assembly: kecepatan, insight, kemampuan abstraksi dan sintesa
Digit symbol: kecepatan kerja, ketelitian, ingatan mekanis, sensomotorik, proses learning
- Penggolongan Taraf Inteligensi
Taraf Inteligensi Inteligence Quotient (IQ)
Very superior 140- ke atas
Superior 120-140
High average 110-120
Normal or average 90-110
Low normal 80-90
Borderline defective 70-80
Moron or debil 50-70
Imbecil 25-70
Idiot 25 ke bawah
KECERDASAN EMOSI
A. Pengertian Emosi
Emosi merupakan dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur yang terkait dengan pengalaman. Kata emosi berasal dari bahasa latin movere yang berarti menggerakkan, bergerak atau bergerak menjauh. Pada dasarnya emosi merupakan suatu kegiatan atau pergolakan pikiran dan suatu kecenderungan untuk bertindak.
Menurut D Goleman emosi terbagi menjadi:
Amarah seperti mengamuk, benci, terganggu, kesal hati
Kesedihan seperti berduka, asa, depresi
Rasa takut seperti cemas, gugup, khawatir, tidak tenang, fobia, panik
Kenikmatan seperti senang, bahagia, gembira, puas, bangga, terhibur
Cinta seperti perasaan kasih sayang, kepuasan seksual, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati
Terkejut seperti takjub, terpana
Jijik, jengkel, hina

B. Pengertian Kecerdasan Emosi
• M Stankov L Davies: kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan lainnya dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntun proses berpikir serta perilaku seseorang
• Cooper dan Sawaf: kecerdasan emosional merupakan kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi
• John Mayer: Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri
• Sebagian peneliti beranggapan tentang adanya hubungan adanya kecenderungan emosi tertentu dengan kemampuan nalar seseorang
• Sebagian peneliti lain beranggapan bahwa kecerdasan emosi secara spesifik terkait erat dengan berbagai bentuk kecerdasan lainnya. Bentuk kecerdasan lainnya sering kali tidak berhubungan satu sama lain
• Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk mengenali, mengelola dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain serta membina hubungan dengan orang lain
C. Ciri-Ciri Kecerdasan Emosional
- Kemampuan memahami pengalaman emosi pribadi: merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri ketika perasaan atau emosi muncul, merupakan dasar dari kecerdasan emosional
- Kemampuan mengendalikan emosi: adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan kemampuannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara salah
- Kemampuan memotivasi diri: yaitu kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat
- Memahami emosi orang lain: adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain sehingga orang lain tersebut akan senang dan dimengerti perasaannya
- Mengembangkan hubungan dengan orang lain: merupakan kemampuan untuk mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi
TEORI DUA TAHAP PERKEMBANGAN MORAL VERSI PIAGET


Usia anak
Tahap Perkem. Moral
Ciri Khas
4 - 7 th
Realisme moral (dalam thp perkem.)
1.memusatkan pd akibat2 perbuatan
2.aturan2 dipandang tak berubah
3.hubungan atas pelanggaran dipandang bersifat otomatis
7 – 10 th
Masa transisi (dlm thp perkem. Kognitif konkret-operasional
Perubhn secara bertahap kearah pemilikan moral tahap kedua
11 th keatas
Otonomi, realisme, dan resiprositas moral (dlm tahap perkembgn kognitif formal-operasional.
1.Mempertimbgkn tujuan2 prilaku moral
2.menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dpt dirubah.

FAKTOR-FAKTOR  YANG MEMPENGARUHI BELAJAR


Internal siswa
Eksternal siswa
Pendekatan
1.Aspek Fisiologis:
- Tonus jasmani
- Mata dan telinga



2.Aspek Psikologis
- intelegensi
- sikap
- mental
- bakat
- motivasi
1.Lingkungan sosial:
- keluarga
- guru dan staf
- masyarakat
- teman

2.Lingkungan non sosial
 - rumah
 - sekolah
 - peralatan
 - alam
1.Pendekatan tinggi:
- speculative
- achieving (mengerjakan)


2. Pendekatan menengah
 - analytical (analisa)
 - deep (mendalam)




3. Pendekatan rendah
 -reproductive(membaik)
 - surfase (muncul)

CONTOH:

Sudut Usaha Belajar                  Sudut Hasil Belajar
 
Usaha Belajar Toni                                     Prestasi Toni tinggi
Usaha Belajar Rina                                    Prestasi Rina Sedang
Usaha Belajar Reni                                     Prestasi Reni Rendah

         ( Prestasi belajar, Toni, Rina dan 
       ( Usaha Belajar Toni,                                                    Reni sama )
         Rina dan Reni ) 





Tujuan Instruksional
Pencapaian

1. Kognitif  Memiliki 6 Taraf
A.   Pengetahuan        Mencakup  Ingatan (Khusus Dan Umum)

B.  Pemahaman          Mencakup Pengertian, Mengetahui Apa Yang Sedang Dikomunikasikan

C. Aplikasi Apstraksi Dalam Situasi Yang Khusus Atau Kongkrit Dengan Prosedur Berupa Ide Teori Yang Harus Diingat Atau Diterapkan

D. Analisis Penguraian Suatu Ide Kedalam Unsur Pokok Sehingga Hirarkinya Menjadi Jelas Atau Memperjelas Ide Yang Bersangkutan, Bagaimana Ide Itu Disusun

E.   Sintesis  Kemampuan Menyatukan Unsur-Unsur Dan Bagian-Bagian Sehingga Merupakan Suatu Keseluruhan

F. Evaluasi                Penilaian Bahan Dan Metode Untuk Mencapai Tujuan Tertentu Seperti: Penilaian Kuantitatif Dan Penilaian Kualitatif Untuk Melihat Sejauh Mana Bahan Dan Metode Memenuhi Kriteria Tertentu (Boleh Ditentukan Siswa Atau Guru)

2. Afektif Memiliki 5 Taraf

A. Memperhatikan: Mengenai Kepekaan Siswa Terhadap Penomena Dan Perangsang Tertentu Menyangkut  Kesediaan Siswa Untuk Menerima/Memperhatikan.

B. Merespons: Lebih Dari Hanya Memperhatikan Fenomena, Sudah Memiliki Motivasi.
C. Menghayati Nilai                                   Prilaku Siswa Cukup Konsisten Dalam Situasi  Sehingga Dipandang Menghayati Nilai Yang Bersangkutan.
D. Mengorganisasikan: Menghadapi Situasi Lebih Dari Satu Nilai.
E. Memperhatikan Nilai Dan Seperangkat Nilai:Telah Mendarah-Dagingkan Nilai-Nilai Sedemikian Rupa Sehingga Dalam Prakteknya Ia Sudah Digolongkan Sebagai Orang Yang Memegang Nilai.
3. Psikomotorik
A. Persepsi:  Menyadari Obyek, Sifat Atau Hubungan-Hubungan Melalui Alat Indera
B. Set: Kesiapan Untuk Melakukan Suatu Tindakan Untk Bereaksi Terhadap Suatu Kejadian Tertentu.
C. Respons Terbimbing: Pengembangan Keterampilan Motoris, Perbuatan Individu Yang Dapat Diamati Dengan Bimbingan Individu Lain
D. Respons Mekanistis: Siswa Sudah Yakin Akan Kemampuannya Dan Sedikit Terampil Untuk Melakukan SUATU PERBUATAN.
E. Respons Kompleks: Individu Dapat Melakukan Perbuatan Motoris Yang Lebih Dianggap Kompleks.

Arti Penting Perkembangan Kognitif Bagi
 Proses Belajar Siswa

                Seberapa jauh kah signifikansi perkembangan ranah kognitif bagi proses mengajar belajar. Ranah psikologis siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, dalam perspektif psikologi kognitif adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya. Yakni ranah afektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa) , tidak seperti organ-organ tubuh lainnya. Organ otak sebagai markas fungsi kognitif bukan hanya menjadi penggerak aktifitas akal pikiran melainkan juga pengontrol aktivitas pesaan dan pebuatan. Sebagai menara pengontrol otak selalu bekerja siang dan malam, sekali kita kehilangan fungsi-fungsi kognitif karena kerusakan berat pada otak, martabat kita hanya berbeda sedikit dengan hewan.
Al-Furqan: 44 Artinya:

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya”
                Itulah sebabnya, pendidikan dan pengajaran perlu diupayakan sedemikian rupa agar ranah kognitif para siswa dapat berfungsi secara positif dan bertanggungjawab dalam arti tidak menimbulkan nafsu serakah dan kedustaan yang tidak akan hanya merugikan dirinya sendiri saja, tetapi juga merugikan orang lain.

1.          Pengembangan kecakapan kognitif.
Kelebihan-kelebihan fungsi ranah kognitif, khususnya bagi siswa yang sedang belajar mengembangkan seluruh potensi psikologisnya, baik yang berdimensi afektif maupun psikomotor, oleh karenanya, upaya pengembangan kognitif siswa secara terarah baik yang berdimensi afektif maupun psikomotor, oleh karenanya, upaya pengembangan kognitif siswa secara terarah baik oleh orang tua maupun oleh guru, sangat penting. Upaya pengembangan fungsi ranah kognitif akan berdampak  positif bukan hanya terhadap ranah kognitif sendiri, melainkan juga ranah afektif dan psiko-motor seperti yang akan di uraikan lebih lanjut.
Dua macam kecakapan kognitif siswa yang amat perlu di kembangkan segera khususnya oleh guru:
a.       Strategi belajar memahami isi materi pelajaran;
b.       Strategi meyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran tersebut.
Strateginya, psikologi kognitif  berarti  prosedur mental yang berbentuk tatanan tahapan yang memerlukan alokasi upaya-upaya yang bersifat kognitif atau pilihan-pilihan kebiasaan belajar (cognitive preferences) siswa, pilihan kebiasaan belajar ini secara garis besar terdiri atas:
-          menghafal prinsip-prinsip yang terkandung dalam materi : ini timbul pada umumnya karena adanya dorongan luar (motif ekstrinsik) yang mengakibatkan siswa menganggap  belajar hanya sebagai alat pencegah ketidak lulusan  atau ketidak naikan. Aspirasi yang dimilikinya pun menurut Dart & Clarke (1990) bukan ingin menguasai materi secara mendalam melainkan sekedar asal lulus atau naik kelas semata.
-          mengaplikasikan  prinsip-prinsip materi. Ini biasanya timbul karena dorongan dari dalam diri siswa sendiri (motif intrinsik), siswa tersebut memang tertarik dan membutuhkan materi-materi pelajaran yang disajikan gurunya. Oleh karenanya siswa ini lebih memusatkan perhatiannya untuk benar-benar memahami dan juga memikirkan cara menerapkannya. (good & Brophy, 1990), untuk mencapai aspirasi ini, ia memotivasi diri sendiri agar memusatkan perhatiannya pada aspek signifikansi materi dan mengaplikasikannya dalam arti menghubungkannya dengan materi-materi lain yang relevan.
2.          Pengembangan kecakapan Afektif
3.          Mengembangkan Kecakapan Psikomotor

POLA PENGEMBANGAN FUNGSI KOGITIF


1. Pengembangan
2. Fungsi kognitif

   3. Upaya

4.       Proses Belajar Mengajar (PBM) memahami,
                meyakini, dan mengaplikasikan isi dan nilai
                mata pelajaran
5.       Proses Belajar Mengajar (PMB) memecahkan
 masalah dengan mengaplikasikan isi dan nilai
 materi pelajaran.

 



    Hasil
 





       Kecakapan                                        Kecakapan                           Kecakapan
   Kognitif siswa                                         Afektif siswa               Psikomotorik       Siswa
 





    Hasil
 





    Sumber Daya Manusia
    (SDM) Berkualitas
 


Rumusan Tujuan Dalam Bentuk Prilaku Yang Dapat Diamati Sesuai Dengan Ke Enam Taraf Kognitif Dalam Mata Pelajaran
 
MENGANALISIS TUJUAN INSTRUKSIONAL




 






                                                                                                 
                                                                                                                 

Tentukan Tujuan yang dirumuskan dalam bentuk prilaku yang dapat diamati
 
Tuliskan tujuan dalam bentuk prilaku yang dapat diamati
 
 




 








                                                                                                                 
Tuliskanlah
 
                                                                                                                                 
Sebutkan ciri2 definisi
 
                                                               
Bacalah
 










































MENAFSIRKAN PANDANGAN ISLAM TENTANG BELAJAR
A. Perintah Islam Tentang Belajar
Alquran dan hadist banyak menjelaskan pentingnya menuntut ilmu bagi kesejahteraan individu yang sedang belajar maupun bagi masyarakat di sekitarnya. Surat yang pertama kali diturunkan Allah SWT di dalam Alquran yaitu Al Alaq dimana terkandung karunia Allah SWT berupa pengajaran dan mengutamakan manusia dengan pengajaran yang Dia berikan kepada makhluk-Nya. Hal ini menjadi bukti kemuliaan ilmu dan pengajaran. Allah SWT berfirman “ bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmulah yang maha pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al Alaq: 1-5). Dan masih banyak ayat-ayat Alquran maupun hadist yang menyuruh manusia untuk belajar.

B. Prinsip-prinsip Belajar Dalam Islam
Proses belajar adalah proses yang kompleks tetapi terorganisasi terjadinya aktivitas belajar melalui dua proses yaitu intern (proses yang terjadi pada individu) dan proses ekstern (aktivitas guru dalam mengembangkan proses intern). Antara lain: Adanya motivasi, Motivasi sangat berarti bagi proses belajar karena adanya motivasi belajar dalam diri siswa akan menentukan efektivitas proses belajar. siswa yang memiliki motivasi tinggi akan melakukan proses belajar dengan rajin tanpa adanya paksaan. Belajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks peningkatan materi disesuaikan dengan tahap perkembangan murid dan metode yang digunakan pengajar. Dalam proses belajar ini harus ada perubahan dari yang tidak bisa menjadi bisa, dan dari bisa menjadi mahir. Belajar melibatkan berbagai proses pembedaan dan generalisasi berbagai konsep. Konsep adalah serangkaian perangsang yang mempunyai sifat-sifat yang sama. Suatu konsep dibentuk melalui pola unsur bersama di antara anggota kumpulan atau rangkaian. Dengan belajar, manusia diharapkan mampu menggunakan berbagai konsep pada suatu situasi baru dan lebih luas atau lazim disebut generalisasi.

C. Kedudukan Belajar Dalam Islam
1. Ilmu adalah karunia terbesar Allah SWT
“Dan Allah telah menurunkan al kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui, dan adalah karunia Allah itu sangat besar kepadamu” (An Nisa 113)
2. Ilmu akan meninggikan derajat
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan kepada kalian, dan apabila dikatakan berdirilah kalian, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu ke beberapa derajat, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (Al Mujadalah 11)

3. Orang beriman akan didoakan Allah, malaikat dan makhluk lainRasullah bersabda “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penghuni langit, penghuni bumi, hingga semut di liangnya, dan hingga ikan paus di lautnya pasti mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (riwayat At Tirmidzi)
4. Pencari ilmu adalah mujahid
Rasullah bersabda “barang siapa masuk ke masjid ini untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarkannya maka ia seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa masuk ke dalamnya tidak untuk maksud yang demikian, maka ia seperti orang yang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (riwayat Ibnu Hibban)
5. Ilmu adalah kemuliaan bagi pemiliknya
“demikianlah kami atur untuk mencapai maksud Yusuf. Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang kami kehendaki, dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang maha mengetahui” (Yusuf 76)
6. Ilmu itu jalan menuju kebahagiaan
“ Sesungguhnya dunia itu diberikan kepada empat orang: seorang hamba yang dianugerahi Allah harta dan ilmu, kemudian ia bertakwa kepada Allah di dalam hartanya, dengannya ia menyambung hubungan sanak kerabat, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya di sisi Allah paling baik. Orang yang dianugerahi Allah ilmu namun tidak dianugerahi harta Ia berkata ‘seandainya aku mempunyai harta pasti aku mengerjakan seperti yang dikerjakan si fulan’ ia berniat seperti itu dan pahala keduanya sama. Orang yang dianugerahi Allah harta tapi tidak dianugerahi ilmu, kemudian ia tidak bisa mengatur hartanya, tidak bertakwa kepada Allah di dalamnya, tidak menyambung hubungan sanak kerabat dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya, kedudukan orang tersebut di sisi Allah paling jelek. Orang yang tidak dianugerahi Allah harta dan tidak pula ilmu, ia berkata “seandainya aku mempunyai harta, aku pasti mengerjakan apa yang dikerjakan si fulan” ia berniat seperti itu dan keduanya mendapat dosa yang sama” (riwayat Ahad dan At Tirmidzi)





Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking